Jakarta, 31 Agustus 2018 – Banyak orang bilang bahwa bisnis fashion dan kuliner adalah bisnis yang tidak akan pernah mati. Namun pada kenyataannya jelas tidak semudah itu. Kita tahu bahwa dunia fashion terus berjalan mengikuti tren, begitu cepat perubahan terjadi dalam dunia fashion. Apalagi dengan perkembangan teknologi membawa persaingan pasar tidak hanya terjadi secara offline, banyak online shop bermunculan dengan harga bersaing. Hadirnya sosial media dan marketplace tidak hanya membuka peluang bisnis bagi entrepreneur, tetapi juga menjadi tantangan bagi pelaku bisnis untuk bisa bersaing.

Tidak hanya industri fashion yang berkembang pesat, perkembangan pesat juga terjadi pada industri makanan dan minuman. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 4,41% secara tahunan pada kuartal II/2018. Pertumbuhan ini didorong oleh industri makanan dan minuman yang tumbuh sebesar 8,67% y-o-y, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 6,48%.

Hal ini jelas menunjukkan perkembangan yang positif bagi Indonesia. Namun bagi para entrepreneur hal ini tidaklah mudah, karena entrepreneur khususnya small business owner harus bisa bersaing dengan pelaku bisnis lainnya. Tantangan semakin besar, maraknya penggunaan sosial media tidak hanya membuka peluang pasar, tetapi menjadi tantangan bagi small business owner untuk membangun strategi agar bisa bertahan dan meningkatkan kualitas bisnisnya.

Berangkat dari situasi tersebut, excellence.asia melalui program EXCELLOKA bekerja sama dengan Backspace Lippo Mall Puri mengadakan diskusi bisnis bersama para pembicara profesional yang diselenggarakan Jumat, 31 Agustus 2018 (13.00-17.00) di Lippo Mall Puri (Atrium 1) bersama Aditya Kristanto Gunawan (Founder Pakar.co.id), Michiko Sutanto (Senior Manager on Marketing Strategy at Lemonilo), Nina Moran (CEO Go Girl! Magz), Andrew Darmadi (CEO Halosis.co.id), dan Nigg Dional (CoFounder Alezalabel.com). Acara ini akan dipandu oleh Viktor Yanuar S (CEO dan CoFounder excellence.asia).

Dalam Data Statistik dan Hasil Survei Ekonomi Kreatif oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, kendala terbesar pelaku usaha ekonomi kreatif adalah pemasaran produk di dalam negeri mencapai 41,89 persen. Kendala berikutnya diikuti oleh kemampuan riset dan pengembangan sebesar 37,4 persen.

Dalam event EXCELLOKA Goes to Mall, Viktor Yanuar S menyampaikan bahwa pemasaran masih dilakukan secara sporadis oleh pelaku UMKM. excellence.asia sendiri hadir melalui program excelloka untuk memberikan pelatihan bisnis yang berkualitas bagi UMKM.

”Contohnya di sektor makanan, mereka hanya promosi pada saat ada bazar,” kata Viktor. Sebagian besar small business owner masih melihat bisnis yang dikelola sebagai kerja sampingan. Belum ada komitmen penuh untuk mengembangkan bisnisnya.

Kita tentu tahu bahwa di era digital ini banyak penjual memiliki situs dan akun media sosial. Hal yang sangat lumrah mereka menggunakan sosial media dan marketplace untuk berjualan. Namun persoalannya adalah small business owner belum memanfaatkannya dengan maksimal.

Pada kesempatan EXCELLOKA Goes to Mall, hadir Co-Founder Pakar, Aditya Goenawan. Ia mengatakan, digital marketing dibagi menjadi tiga bagian, yaitu beriklan melalui internet, branding lewat sosial media, dan marketplace seperti e-dagang.

”Pemasaran melalui internet lebih murah dari media konvensional,” tuturnya. Sekali pasang sebuah baliho di jalan dapat mencapai miliaran rupiah, sedangkan di internet bervariasi di angka Rp 1 juta hingga puluhan juta rupiah.

Dari sisi target pembeli, pemasaran melalui internet bisa dalam berbagai format berupa teks, foto, grafis, dan video. Sebagai small business owner yang melakukan pemasaran di internet harus mengecek efektivitas dari aktivitas yang dilakukannya. Caranya adalah dengan melihat infografis dari iklan yang dipasang.

Small business owner juga bisa memasang iklan melalui Google, Facebook, dan Instagram. Namun harus jeli dalam menentukan target agar promosi bisa berjalan efektif sesuai dengan target pasar yang ditentukan. Senior Manager on Marketing Strategy Lemonilo Michiko Sutanto menambahkan, dalam memasarkan produk di media sosial, pelaku UMKM masih susah dalam mendeskripsikan produk.

”Bahasa yang digunakan harus sesuai dengan target konsumen sehingga mereka bisa memiliki ikatan dengan produk,” kata Michiko. Adapun Lemonilo adalah perusahaan e-dagang di bidang makanan sehat.

Tidak hanya membahas tentang media yang digunakan untuk melakukan pemasaran dan promosi, tetapi pada kesempatan EXCELLOKA Goes to Mall juga membahas tentang “citra dari brand yang dimiliki small business owner”  bersama Founder RAN Looks Oya Miranti.

Citra yang dibangun oleh small business owner perlu disesuaikan dengan produk yang ditawarkan. ”Hal itu memengaruhi kondisi psikologis calon konsumen untuk menerima produk kita,” tuturnya. Para small business owner diharapkan dapat membangun strategi yang tepat dalam melakukan aktivitas pemasaran dan promosi, terutama dalam memanfaatkan media sosial ataupun platform yang ada. Pengembangan kualitas bisnis harus dilakukan dengan komitmen agar bisnis dapat sukses dan mampu bersaing di pasar nasional, bahkan internasional.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.