Hasil analisis Global Burden of Disease tahun 2004 didapatkan bahwa 15,3 % populasi dunia (sekitar 978 juta orang dari 6,4 miliar estimasi jumlah penduduk tahun 2004) mengalami disabilitas sedang atau parah, dan 2,9% atau sekitar 185 juta mengalami disabilitas parah. Pada populasi usia 0-14 tahun prevalensinya berturut-turut adalah 5,1% (93 juta orang) dan 0,7% (13 juta orang). Sedangkan pada populasi usia 15 tahun atau lebih, sebesar 19,4% (892 juta orang) dan 3,8% (175 juta orang).

Dari hasil analisis di atas membuktikan masih banyaknya disabilitas, termasuk di Indonesia. Data Susenas 2003, ABK usia sekolah berjumlah 679.048 dan sebagian dari mereka (85,6%) berada di masyarakat dan sebagian kecil (14,4%) berada di institusi yaitu sekolah dan panti/ Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

Ironisnya, sebagian dari masyarakat masih menganggap anak dengan disabilitas sebagai aib keluarga sehingga orang tua/keluarga cenderung menyembunyikannya dan kurang memperhatikan kebutuhan anak sesuai hak anak, baik di bidang pendidikan maupun kesehatan dan bidang lainnya. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, kurangnya lapangan kerja bagi disabilitas juga merupakan keprihatinan masyarakat di Indonesia.

Melihat fenomena tersebut, excellence.asia sebagaiProfessional Trainers & Coaches Marketplace for Corporates and Individuals” mendukung YPAC Nasional menyelenggarakan “Pelatihan Start-up Kewirausahaan Berbasis IT bagi Penyandang Disabilitas” pada Oktober-Desember 2018 sebanyak 25 pertemuan. Acara ini didukung oleh Tokopedia untuk meningkatkan kemampuan berwirausaha bagi penyandang disabilitas. Pada bulan Oktober ini pelatihan yang diselenggarakan mengangkat tema tentang Success Story (18 Oktober 2018), Business Model (22 Oktober 2018), Value Proposition Design (25 Oktober 2018), dan Web & Mobile Aps, Branding (29 Oktober 2018).

Pada pertemuan bertema “Success Story” dihadiri oleh 18 peserta di YPAC National IT Training Centre. Dalam kesempatan ini peserta diajak untuk mendengar cerita perjuangan hidup para pembicara dalam mencapai kesuksesan. Pertemuan pertama ini bertujuan memberikan motivasi bagi semua peserta agar nantinya peserta dapat mengikuti berbagai pelatihan lain yang akan diselenggarakan dalam rangkaian program Pelatihan Startup Kewirausahaan Berbasis IT. Peserta yang hadir terdiri dari 12 orang disabilitas pendengaran, 4 orang disabilitas developmental, 3 orang dengan keterbatasan, dan 1 remaja dengan autisme. Semua peserta yang mengikuti pelatihan ini telah melalui proses seleksi pemahaman akan cara penggunaan komputer dan internet, serta tes membuat laporan.

“Kita gak boleh malu karena kita memiliki keterbatasan,” ungkap Monica Linda dari CipCip Community. Sosok yang akrab disapa Linda adalah seorang disabilitas penglihatan yang merintis bisnis bernama Cip Cip Store. Dia mengakui bahwa dirinya merintis bisnis ini dari awal.

Linda menceritakan perjalanan bisnisnya dari awal hingga saat ini. “Awalnya saya cuma punya dua kulkas, satu kulkas kecil dan satu kulkas dengan dua pintu. Itu Pun bukan kulkas yang bagus. Namun sekarang saya sudah bisa memiliki 9 kulkas dan beberapa freezer untuk bisnis saya. Semua ini tentu tidak bisa berkembang sendiri, tetapi saya bekerja sama dengan teman-teman, kami saling membantu dan menguatkan” kata bu Linda.

CipCip Community merupakan komunitas para disabilitas untuk bisa berbagi dan berkembang bersama. CipCip adalah singkatan dari Cerita Inspiratif Para Disabilitas tentang Cinta, Iman, dan Pengharapan. Sedangkan CipCip Store sendiri didirikan dengan tujuan untuk memberdayakan dan memberi lapangan usaha bagi para penyandang disabilitas. Produk yang dijual berupa makanan dan snack. Linda menjadi bukti bahwa disabilitas juga bisa menjadi seorang entrepreneur.

“Asalkan kita mau belajar, pasti bisa,” ungkap Linda.

Linda menyampaikan kepada semua peserta bahwa disabilitas selalu memiliki kesempatan untuk maju, tentunya dengan berusaha dan terlibat dalam komunitas. Tidak hanya itu, menjadi entrepreneur merupakan salah satu alternatif yang bisa dilakukan oleh disabilitas. Tidak harus memiliki modal yang besar, tetapi bisa menjadi dropshipper. Apalagi saat ini sudah banyak sosial media dan marketplace yang bisa dimanfaatkan untuk berjualan secara online, sehingga yang perlu dilakukan adalah belajar memanfaatkan internet dan teknologi yang ada.

Pada kesempatan ini hadir juga Herman Wahidin. Saat ini sosok yang akrab disapa Herman menjabat sebagai manajer di salah satu perusahaan asuransi di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Herman menjadi sosok yang spesial karena walaupun ia seorang disabilitas fisik, tetapi ia mampu membuktikan kemampuannya. Bahkan ia bisa mengembangkan karirnya di tengah persaingan yang ketat. Walaupun memiliki keterbatasan Herman tetap bisa berprestasi, terbukti dari gelar Master of Information Systems  dari The University of Melbourne yang diraih saat kuliah.

Sosok yang sangat inspiratif ini mengungkapkan beberapa contoh yang telah dia lakukan dalam usaha meningkatkan diri dan bermanfaat untuk orang lain, yakni meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri dalam pekerjaan; meningkatkan kemandirian; meningkatkan pengetahuan dan kompetensi diri; aktif dalam pelayanan di gereja; aktif dalam komunitas penyandang disabilitas; dan memanfaatkan ilmu dan pengetahuan.

“Bagi saya kebahagiaan adalah kemampuan untuk selalu dapat bersyukur dan kesuksesan merupakan kemampuan untuk terus meningkatkan diri dan bermanfaat untuk orang lain,” ungkap Herman.

Para pembicara memberikan inspirasi kepada peserta untuk mau berjuang dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Tidak hanya itu, dalam acara ini masing-masing peserta diajak untuk merumuskan 5 hal yang membuat mereka bersyukur. Hal ini sebagai salah satu tahap untuk membangkitkan semangat peserta agar nantinya bisa mengikuti rangkaian program pelatihan dengan baik.

“Ada 5 hal yang membuat saya selalu bersyukur. Pertama, saya memiliki orang tua yang selalu mendukung saya. Kedua, saya bersyukur karena Tuhan selalu memberkati hidup saya. Ketiga, saya bersyukur memiliki banyak teman dan saya tidak pernah merasa sakit hati. Keempat, walaupun saya tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara, saya tetap bisa sekolah dan kuliah. Ketika saya kesulitan untuk belajar, saya memiliki teman dekat yang selalu mau membantu saya. Kelima, saya bersyukur walaupun saya tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara, tetapi saya tetap memiliki kelebihan,” ungkap Riza Ahmad Fauzi salah satu peserta workshop.  

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.