Perkembangan teknologi membawa pergeseran jaman. Segala sesuatu lebih mudah diakses, cepat, murah, dan tanpa batas. Digitalisasi menggiring manusia pada kemudahan dan efisiensi. Tidak  hanya itu, kamu perlu menyadari bahwa era digital ini juga menjadi tantangan bagi perusahaan-perusahaan. Selain perubahan teknologi, terdapat perubahan budaya. Apalagi banyaknya ‘generasi millenial’ jelas membawa perusahaan pada tantangan tersendiri.

Baca : 5 Tips Memperlakukan Generasi Milenial di Tempat Kerja

Para peneliti di Oxford Economics mencatat bahwa ‘kelas baru’ dari para pemimpin yang baru muncul mencakup pola pikir digital, sangat mahir menggunakan teknologi untuk mencapai keunggulan kompetitif, dan melaporkan hasil bisnis yang lebih kuat sebagai hasilnya.

Faktanya, studi Leaders 2020 baru-baru ini terhadap lebih dari 4.000 eksekutif di 21 negara menemukan bahwa pemimpin digital mendorong kinerja yang lebih kuat dan keterlibatan karyawan melalui strategi, kecepatan, dan inklusivitas.

Gaya kepemimpinan digital bisa membawa peluang yang luar biasa. Tetapi jika tidak dilakukan dengan serius, itu dapat mendorong seorang pemimpin terlalu jauh dari dirinya yang asli dan sejati.

Jika kamu sekarang adalah pemimpin dalam perusahaan, apa saja tantangan yang kamu hadapi? Terdapat dua hal tantangan, yaitu  1. menjaga keaslian, yakni menjadi pemimpin yang selaras dengan diri sejati mereka, dengan memanfaatkan yang terbaik dari apa yang ditawarkan oleh perubahan digital, dan 2. secara bersamaan mengembangkan diri sejati mereka selaras dengan perubahan digital itu sendiri.

Melihat situasi dan tantangan tersebut, maka jelas bagi para pemimpin di era digital harus bisa menyikapinya dengan baik. Sehingga kepemimpinan bisa tetap efektif dan sesuai dengan perkembangan jaman, serta bisa memelihara ‘keasliannya’ agar kamu tidak menjadi sosok yang berbeda.

Nah, bagaimana caranya?

The classical Knowing-Doing-Being framework memaparkan satu jalan bagi kamu untuk mengatasi hal ini. Kerangka ini tentu bukan sekedar konsep, tetapi juga harus dipraktikan secara nyata. Apa saja yang bisa dilakukan pemimpin di era digital?

1.Knowing

Proses untuk menjadi pemimpin yang autentik dimulai dengan pengetahuan. Sebagai pemimpin perlu berpikir dan memahami keterampilan, kompetensi, dan informasi teknis yang diperlukan agar bisa mengelola tim dalam dunia kerja yang modern.

Bagi banyak pemimpin, digital dapat menjadi ‘frenemy’ (teman/lawan). Hal ini bisa menjadi wadah untuk meningkatkan pengaruh, prestise, dan kekuatan pemimpin. Namun terdapat pula peluang tersembunyi, di mana ‘digital’ bisa menjadi media yang menjerumuskan pemimpin pada ‘ego’. Seorang pemimpin mungkin semakin terkenal karena adanya social media, sehingga enggan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap ‘tidak selevel’.

Pengetahuan diperlukan oleh seorang pemimpin, tidak hanya itu di era digital ini sebagai pemimpin kamu harus bisa fleksibel agar dapat mengikuti perkembangan jaman yang dinamis.

2.Doing

Merangkul informasi yang tepat untuk menjadi pemimpin digital yang autentik cukup mudah. Tantangan sebenarnya dimulai ketika orang mulai mempraktekkan pengetahuan itu. Dalam dunia digital tidak ada lagi batasan dimana informasi dapat diakses dengan cepat dan mudah. Kemudahan ini mendorong orang untuk semakin meningkatkan inovasi.

Tidak hanya itu, budaya kewirausahaan yang tebangun membuat kamu lebih beranu mengambil risiko. Sebagai pemimpin tidak hanya memberikan delegasi dan perintah, tetapi perlu bagi seorang pemimpin untuk terlibat dalam proyek yang ada. Bekerja bersama tim dan berinteraksi dengan banyak anggota perusahaan menjadi salah satu cara untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya terjebak pada ‘status’, tetapi juga melakukan ‘aksi’ sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan.

3.Being

Hal yang paling sulit untuk menjadi pemimpin sejati adalah tahap wujud. Kamu ditantang untuk bisa mewujudkan secara konsisten peran sebagai pemimpin dalam perusahaan. Tidak hanya itu, sebagai pemimpin kamu harus bisa menuntun anggota perusahaan untuk mencapai tujuan, bertindak sesuai pada nilai-nilai, dan yang terpenting menjaga integritas.

Kamu pasti memiliki sejarah pribadi tentang momen-momen yang mempengaruhi dirimu saat ini. Kamu bisa mengatasi semua rintangan dalam kehidupan dan belajar dari berbagai pengalaman untuk mencapai keberhasilan. Pengalaman-pengalaman ini jelas membentuk dirimu saat ini, sekaligus mempengaruhi cara kamu mengambil keputusan.

Digital sendiri bisa berarti ‘kita semakin tidak terkendali’. Tidak ada cara untuk mengelola setiap komponen tentang bagaimana orang lain bereaksi, merespond, atau mengkritik kehidupanmu. Maka, sangat penting buat kamu sebagai pemimpin untuk bisa merangkul dan menerima sekaligus, baik pihak yang pro dan kontra.

Pemimpin pada era digital ini akan lebih sering berkomunikasi dan terlibat dengan banyak audiens. Sebagai pemimpin, kamu harus bisa membangun perspektif global dan meminimalisir perspektif yang subyektif. Bahkan kamu harus bisa menambahkan perspektif yang unik dan baru.

Nah, sebagai pemimpin di era digital apakah kamu sudah melakukan ketiga hal ini? Cobalah untuk menerapkan ketiga hal ini dengan lebih serius, sehingga kamu bisa membawa tim pada kesuksesan bersama perusahaan.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.